Friday, March 18, 2016

BAHAYA MELAMIN





A.  Sejarah Melamin
Cikal bakal melamin dimulai tahun 1907. Ketika ilmuwan kimia asal Belgia, Leo Hendrik Baekeland berhasil menemukan plastik sintetis pertama yang disebut bakelite. Penemuan itu merupakan salah satu peristiwa bersejarah keberhasilan teknologi kimia awal abad ke-20.
Pada awalnya bakelite banyak digunakan sebagai bahan dasar pembuatan telepon generasi pertama. Namun, pada perkembangannya hasil penemuan Baekeland dikembangkan dan dimanfaatkan pula dalam industri peralatan rumah tangga. Salah satunya adalah sebagai bahan dasar peralatan makan seperti sendok, garpu, piring, gelas, cangkir, mangkuk, sendok sup, dan tempayan, yang dihasilkan dari melamin.
Faktor inilah yang membuat melamin semakin luas dan digunakan pada tahun awal pasca Perang dunia II. Diantaranya digunakan pada industri kayu lapis yang berfungsi untuk memperkuat dan mempercantik produk-produknya. Perlengkapan makan dari bahan melamin diperkenalkan di Indonesia pada tahun 1970-an. Melamin ini segera mengikat konsumen, karena mempunyai beberapa kelebihan dari peralatan makan yang lain, dengan demikian melamin lebih ringan, tidak mudah pecah dan praktis di bawa kemana saja.
Produk makanan dan minuman yang mengandung melamin beberapa tahun terakhir diberitakan, baik oleh media cetak maupun elektronik. Produk yang berasal dari negeri tirai bambu ini telah ditarik peredaraanya dan pemerintah pun telah mengumumkan produk-produk apa saja yang mengandung bahan berbahaya ini. Banyak Daftar makanan yang ditarik karena mengandung susu melamine, begitu banyak razia-razia makananan yang dilakukan di supermarket dan toko-toko.
Beberapa tahun terakhir telah dikejutkan oleh media, bahwa susu di RRC mengakibatkan ribuan bayi mengalami kerusakan ginjal dan 4 diantaranya meninggal. Setelah diselidiki ternyata akar penyebab kejadian ini adalah adanya kandungan melamin di dalam produk usus di RRC. Hanya karena ingin menjadikan seolah kandungan proteinnya tinggi, produk susu di China dicampuri melamin. Tidak tanggung-tanggung, sekurangnya empat bayi meninggal dunia dan lebih dari 13.000 bayi harus dirawat.
Melamin sebenarnya di manfaatkan dalam industri rumah tangga, banyak toko yang menjual perabot rumah tangga, peralatan makan dan minuman yang disebut dengan melamin relatif. Sekitar tahun 1970-1980an melamin masih terbatas warna maupun coraknya, kini desain melamin bisa bersaing dengan barang pecah belah lainnya. Produk pecah belah melamin begitu banyaknya sehingga barang ini tak hanya bisa dibeli di toko tetentu, tetapi juga di pasar tradisional sekalipun pedagang kaki lima.
            Masyarakat (konsumen), selayaknya mengetahui apa dan bagaimana suatu produk yang mengandung melamin. Dengan demikian masyarakat akan lebih selektif untuk mengkonsumsi jenis produk makanan.
B.  Pengertian Melamin
Melamin adalah suatu zat organik dengan struktur kimia C3H6N6 atau dengan nama IUPAC 1, 3, 5 triazine 2 , 4, 6- triamine. Berat molekulnya adalah 126, bentuk kristal putih dan agak sulit terlarut dalam air. Sebelumnya kita tahu bahwa melamin banyak digunakan pada produksi plastik, pembuatan alat makan, dan biasanya digunakan melamin resin, yaitu kombinasi melamin dan formaldehid.
Melamina adalah trimer dari sianamida, ia mengandung 66% nitrogen (berdasarkan massa). Ia merupakan metabolit dari siromazina, sejenis pestisida. Melamina terbentuk dalam tubuh mamalia yang mengkonsumsi siromazina. Disisilain siromazina telah diubah menjadi melamina pada tanaman. Melamin didapat sebagai kristal putih. Melamin biasanya digunakan untuk membuat plastik, lem, dan pupuk.
v  Sintesis & Reaksinya
Melamin pertama kali disintesis oleh Liebig pada tahun 1834. Pada produksi awal, kalsium sianamida diubah menjadi disiandiamida, kemudian dipanaskan di atas titik leburnya untuk menghasilkan melamin. Namun, pada zaman sekarang banyak pabrik industri yang menggunakan urea untuk menghasilkan melamin melalui reaksi berikut :

6 (NH2)2CO → C3H6N6 + 6 NH3 + 3 CO2

Mulanya, urea terurai menjadi asam sianat pada reaksi endotermik: (NH2)2CO → HCNO + NH3. Kemudian asam sianat berpolimerisasi membentuk melamina dan karbon dioksida: 6 HCNO → C3H6N6 + 3 CO2. Reaksi kedua adalah eksotermik, namun keseluruhan proses reaksi bersifat endotermik.
C. Bahaya Melamin
1. Pengaruh Melamin bagi kesehatan
Melamin merupakan senyawa polimer dari gabungan monomer formaldehide (formalin) dan fenol. Dimana komponen penyusun melamin tersebut dalam komposisi yang seimbang kelihatan aman tetapi harus diwaspadai. Dalam pembuatan melamin proses pencampurannya sering kali tidak terkontrol. Apabila komposisi antara formaldehide dengan fenol tidak seimbang maka aka terjadi residu, yaitu monomer formaldehide atau fenol yang tidak bersenyawa sempurna. Sisa monomer formaldehide inilah yang berbahaya bagi kesehatan tubuh, selain itu senyawa melamin rentan terhadap panas dan sinar ultravilet yang dapat mendepolimerisasi melamin menjadi monomer formaldehide dan fenol. Meski tahan rentang pada suhu 1200C sampai 300C di bawah nol. Akan tetapi karena bisa menyerap panas, melamin tidak tahan apabila disinari (di papar) panas yang terlalu tinggi apalagi terpapar dalam jangka waktu lama. Oleh sebab itu melamin tidak bisa digunakan dalam microwave.
Berdasarkan acuan kesehatan di Inggris, paparan maksimumnya 2 ppm atau 2 mg / l. Sedangkan Amerika Serikat (AS) menetapkan paparan maksimum untuk jangka panjang 1 ppm dan jangka pendek 2 ppm.


2. Bahayanya melamin bagi kesehatan tubuh
1. Mengakibatkan gangguan metabolisme, terutama terhadap bayi dan anak-anak. Organ tubuh yang paling cepat terganggu adalah fungsi ginjal yang bekerja untuk membuang racun-racun dalam tubuh selain itu funsi otak, hati, mata dan telinga dan bisa menyebabkan kematian..
2. Serangan akut pada saluran pencernaan, di antaranya muntah dan mencret.
  3 Melamin dapat menyebabkan masalah pernapasan pada hewan  percobaan.
4.  Konsumsi melamin juga memengaruhi sistem kekebalan tubuh. Siapa pun yang terpapar zat kimia itu akan mudah terserang flu dan infeksi karena virus dan bakteri.
D. Standard batas kandungan Melamin
·      European Food Safety Agency (EFSA) dan U.S. Food and Drug Administration (FDA) untuk batas kandungan melamin dalam produk makanan , selain makanan bayi , adalah kurang dari 2.5 ppm
·      Hong Kong untuk batasan maksimum konsentrasi melamin pada makanan bayi adalah 1 ppm dan makanan lain 2.5 ppm
·      FDA menetapkan batasan konsentrasi melamine yang terkonsumsi per hari yang dapat ditoleransi adalah 0.63 mg / kg berat badan.
E. Saran
  Masyarakat sebaiknya lebih berhati-hati dalam memilih bahan-bahan perkakas dan rumah tangga, agar terhindar dari bahaya melamin. Supaya para orang tua lebih berhati-hati dalam membeli peralatan makan apapun untuk anaknya, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti terjangkit penyakit yang berbahaya.


Sumber : nitarovianadewi.blogspot.com


No comments:

Post a Comment